Sabtu, 5 September 2026

Breaking News

  • Dua Pekerja Diselamatkan Hidup-Hidup Setelah 9 Hari Terjebak di Terowongan Nepal   ●   
  • Prabowo Ajak Perusahaan Rusia Investasi di 138 Blok Energi Indonesia   ●   
  • Bagaimana Mengenali Orang Cerdas? Ini 9 Kebiasaan yang Bisa Diamati   ●   
  • Hari Pelanggan Nasional 2026, BRK Syariah Sudirman Apresiasi Nasabah   ●   
  • Empat Tahun Jadi Bank Syariah, BRK Syariah Hadapi Tantangan Perluasan Bisnis   ●   
AS Ambil Alih Ladang Minyak Rusia dan China 
Kamis 03 September 2026, 10:02 WIB
Ilustrasi

JAKARTA-Perusahaan minyak Amerika Serikat (AS), North American Blue Energy Partners (NABEP), akan mengambil alih sejumlah ladang minyak di Venezuela yang sebelumnya dikelola oleh perusahaan asal Cina dan Rusia. Pengambilalihan tersebut menjadi bagian dari kesepakatan produksi minyak berskala besar antara Washington dan Caracas yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump.

Menurut dua pejabat AS yang dikutip Reuters, proyek-proyek tersebut merupakan bagian dari 14 kontrak baru yang diberikan pemerintah Venezuela kepada NABEP. Secara keseluruhan, perusahaan yang dikendalikan pengusaha Venezuela Alejandro Betancourt itu diperkirakan akan mengelola 17 proyek minyak di Venezuela.

Lima dari 14 proyek baru tersebut sebelumnya dioperasikan oleh perusahaan Cina, sementara satu lainnya pernah dikelola oleh perusahaan Rusia. Dua proyek tersebut sebelumnya dioperasikan oleh China Concord Resources, yang dikenai sanksi AS pada 2019 terkait aktivitasnya di Iran. Proyek lainnya pernah dikelola oleh Sinopec dan China National Petroleum Corp.

Seorang pejabat AS mengatakan pengambilalihan tersebut juga membuka pasar AS bagi minyak Venezuela yang sebelumnya dikirim ke Cina.

NABEP akan mengambil alih 17 proyek minyak Venezuela, termasuk lima ladang yang sebelumnya dioperasikan oleh perusahaan Cina dan satu oleh perusahaan Rusia. Perusahaan yang dikendalikan pengusaha Venezuela Alejandro Betancourt itu mendapat hak pengelolaan selama 100 tahun atas ladang dengan cadangan terbukti sekitar 65 miliar barel.

Kesepakatan memberikan pemerintah AS 35% saham di perusahaan induk NABEP, hak untuk membeli 20% produksi dengan harga pokok, serta hak penolakan pertama atas 80% produksi lainnya. AS juga memiliki hak veto atas Dewan NABEP, yang mayoritas anggotanya harus menjadi warga negara AS.

NABEP menyatakan akan berinvestasi hingga 100 miliar dolar untuk infrastruktur minyak baru. Betancourt mengatakan bahwa Venezuela memiliki "kelimpahan sumber daya alam, masyarakat yang pekerja keras, dan potensi yang belum dimanfaatkan". 

Menurutnya, kesepakatan itu akan "membuka potensi tersebut demi manfaat besar bagi rakyat Venezuela dan Amerika."

Namun, Washington masih perlu menarik perusahaan minyak besar untuk meningkatkan produksi. ExxonMobil dan ConocoPhillips meninggalkan Venezuela pada 2007 setelah aset mereka dinasionalisasi dan menyatakan bahwa kepastian hukum serta penghormatan terhadap kontrak diperlukan untuk kembali berinvestasi.

Trump mengatakan Exxon akan masuk ke Venezuela, tetapi ExxonMobil menolak berkomentar. ConocoPhillips mengatakan bahwa keputusan investasi akan mempertimbangkan stabilitas kebijakan serta kepatuhan terhadap supremasi hukum.

Alejo Czerwonko dari UBS mengatakan bahwa keterlibatan perusahaan besar diperlukan. "Anda membutuhkan investasi dan keahlian yang besar dari perusahaan seperti Exxon dan ConocoPhillips," katanya. "Bagaimana Anda menarik perusahaan-perusahaan tersebut ke negara tersebut?"

Radhika Bansal dari Rystad Energy menilai bahwa masih terdapat ketidakjelasan dalam kesepakatan tersebut. "Masih banyak hal yang belum diketahui, dan ada unsur-unsur yang membingungkan," katanya.
Kekhawatiran soal Peran AS dan Betancourt

Struktur kesepakatan memicu kekhawatiran sejumlah perusahaan minyak yang mempertimbangkan investasi di Venezuela. Betancourt, yang mengendalikan NABEP, pernah diselidiki oleh otoritas AS dan Eropa terkait transaksi dengan pemerintah Venezuela, meski tidak pernah didakwa. Ia sebelumnya membantah tuduhan tersebut.

"Perusahaan-perusahaan minyak besar dan perusahaan asing besar yang sedang menegosiasikan migrasi kontrak ingin memastikan mereka tidak akan duduk di meja yang sama dengan Betancourt," kata seorang sumber yang terlibat dalam persiapan penandatanganan kontrak energi.

Sumber Reuters juga menyebut bahwa struktur kesepakatan tersebut dapat membuat perusahaan minyak AS bersaing langsung dengan pemerintah AS di Venezuela. Meski demikian, Chevron, Eni, ONGC, GeoPark, dan GE Vernova tetap dijadwalkan untuk menandatangani kesepakatan energi di Venezuela. Kesepakatan tersebut terpisah dari perjanjian NABEP.

Trump mengakui bahwa dampak terhadap harga bahan bakar tidak akan segera terasa. "Mungkin akan sedikit lama," katanya, sembari menanggapi perkiraan bahwa pemulihan sektor minyak Venezuela dapat memakan waktu bertahun-tahun.

Di Kongres, Senator Jack Reed meminta penjelasan mengenai dasar hukum kesepakatan tersebut dan menolak penggunaan militer AS untuk berinvestasi dalam usaha minyak swasta. Sementara itu, Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodrguez mendukung kesepakatan tersebut sebagai peluang untuk memodernisasi industri minyak dan menegaskan kedaulatan Venezuela tetap terjaga.**

 




Editor : jr
Kategori : Internasional
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Situsnews.com, silakan kontak ke email: [email protected]
Berita Pilihan
Jumat 04 September 2026
Menhan Israel Akui Upaya Dapatkan Dukungan AS untuk Relokasi Warga Gaza

Kamis 03 September 2026
All New Pajero Hadir dengan Desain Baru, Siap Dipasarkan ke 100 Negara

Sabtu 29 Agustus 2026
Mengapa Warna Ube Lebih Tahan Panas Dibanding Ubi Ungu? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Jumat 28 Agustus 2026
76 Kades Diperpanjang, Jangan Sekadar Perpanjang Masa Jabatan

Senin 24 Agustus 2026
Ingin Jadi Petugas Haji 2027? Kemenhaj Buka Pendaftaran PPIH Mulai 25 Agustus

Jumat 21 Agustus 2026
Dari Pembinaan hingga Modernisasi, Kasmarni Raih Penghargaan Bakti Koperasi di Koperasi Awards 2026

Jumat 24 Juli 2026
FKPMR Sampaikan Dukungan Moril ke Rida K Liamsi

Senin 20 Juli 2026
Drama 120 Menit! Spanyol Taklukkan Argentina 1-0 dan Rebut Gelar Piala Dunia 2026

Rabu 01 Juli 2026
Viral di Media Sosial, Balut Dinilai Haram Menurut Hukum Islam

Senin 08 Juni 2026
Didukung Lebih dari 600 Penulis, UIR Masuk Jajaran Kampus Riset Terbaik di Riau

Copyrights © 2017-2026 All Rights Reserved by Situsnews.com
Scroll to top